pilihan yang sulit, tapi aku harus berani. Berani menentukan pilihan,ketika satu-satunya pertimbangan hanya kata hati... Mengikuti kata hati, menolak iming-iming fasilitas serba bombastis. Terlalu banyak trauma tersisa ketika mendengar deklamasi bombastis materialistis. Mungkin keputusanku kurang tepat, tapi... inilah yang kuputuskan dengan hati, dan membuatku merasa lega. Kalaupuna da bayang-bayang sesal, ketika naluri serakahku mendengar iming-iming materi... sudahlah lupakan saja.
Seorang sahabat dari seberang sana meyakinkanku, pilihanku tidak salah. Thanks to cak kancil, sejuta maaf untuk om edi
